Masalah?

“Masalah”, semua orang tau kata itu, bahkan hampir semua orang mengalaminya. Memang apa sebenarnya masalah itu? Kata orang sih, definisi dari masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Jadi, apa yang terjadi di kehidupan nyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Banyak orang yang putus asa dalam menghadapi masalah, bahkan sampai ada yang bunuh diri atau membunuh orang lain (how crazy they are).  Namun ingat satu hal, “Allah SWT tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hamba-Nya”. Kalimat yang sering dilontarkan oleh sahabat saya ketika saya mengalami suatu masalah adalah: “Jangan kayak orang yang gak punya Tuhan”. How powerful those words, kalimat yang sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam.

Masalah memang kerap kali menghantui kehidupan kita. Menguras banyak tenaga dan pikiran untuk menyelesaikannya. Membuat susah tidur, tak nafsu makan, sering melamun, marah-marah, bahkan sampai membuat kita menangis (berlebihan memang, tapi itu kenyataannya). Sebenarnya, masalah merupakan bumbu kehidupan. Ya, jika kehidupan kita datar-datar saja tanpa ada masalah, menurut saya itu justru membuat kita bosan dengan kehidupan kita sendiri (kata orang: “Life is never flat”). Masalah dapat memberikan pengalaman kepada kita. Contohnya, dari mengalami masalah tersebut jika kita mengalami masalah yang sama dikemudian hari maka kita dapat dengan mudah menyelesaikannya. Contoh lain bila ada seseorang yang mengalami masalah yang sama dengan yang pernah kita alami, maka kita dapat memberikan alternatif solusi kepada orang tersebut agar dapat menyelesaikannya.

Lanjut ke what I’m going to share about what I’m thinking of.

Memiliki keluarga idaman, that’s our dream. Memiliki orang tua yang selalu mendukung anaknya dalam hal kebaikan, orang tua yang sabar menghadapi anaknya, mampu membimbing anaknya ke jalan yang benar (I hope you know what I’m thinking about), orang tua yang memberi kebebasan tapi tidak melampaui batas, dan masih banyak lagi (think of your own opinion). Tapi tak semua orang tua seperti itu, istilahnya: “bisa dihitung dengan jari” (sangat sedikit). Memiliki orang tua tidak seperti yang kita inginkan sering kali membuat kesal sendiri dan membuat kita melakukan hal yang tidak baik, for example: orang tua selalu mengekang anaknya hingga anaknya sering sekali berbohong (padahal bohong itu dosa, apalagi dengan orang tua) bahkan melawan orang tua mereka. Mengapa mereka berbohong? Ya, karena orang tua mereka melarang untuk melakukan hal tersebut, namun mereka ingin atau sudah melakukannya (asal hal yang dilakukan tidak melampaui batas yang melanggar aturan agama, it’s fine). Terkadang, seorang anak membutuhkan ruang untuk bersenang-senang (every child wants to be free), misalnya jalan ke mall dengan teman-teman seharian namun orang tua mereka tidak mengizinkan. But, lying is not a good thing to do.

Orang tua memberi batasan kepada anaknya, karena mereka tidak ingin anaknya sampai terjerumus dengan hal-hal yang buruk. Itu sangat baik, namun mungkin ada yang salah dengan cara penyampaian mereka. Sang anak harusnya tau mana yang baik dan mana yang buruk, orang tua juga harusnya mengenali anak-anak mereka tentang yang baik dan yang buruk dengan cara yang baik agar mereka mengerti. Jika kebebasan yang diinginkan oleh anak adalah bermain dengan teman-temannya seharian, mungkin anak harus berpikir: “Apa gunanya bermain seharian dengan teman dan melupakan rumah? Apa temanku memberikanku rumah dan orang tua? Actually, home is the best place to stay.”.

Solusinya, orang tua memberikan batasan waktu yang wajar kepada anaknya jika anaknya ingin keluar rumah dan anak harusnya tau kapan ia harus kembali ke rumah. Intinya, semua orang tua ingin anaknya menjadi anak yang baik dan semua anak ingin orang tuanya mengerti apa yang mereka inginkan. Satu hal yang saya tekankan bahwa, orang tua harus tau cara yang baik untuk membuat anaknya menjadi anak yang baik, sedangkan anak harus tau diri apa keinginannya berlebihan atau masih dalam batas kewajaran.
That’s my opinion about a family’s problem.

Bicara soal seseorang yang dekat dengan kita (teman, sahabat), memiliki seorang teman maupun sahabat merupakan hal yang menyenangkan (sometimes). Teman atau sahabat yang menyenangkan adalah teman yang selalu ada saat kita butuhkan, selalu ada dalam suka dan duka, membuat kita tertawa, tidak pernah membuat kita kesal, dan sebagainya (yang baik-baik lah pokoknya). Hey, wake up! Tidak semua teman seperti itu. Kadang kala ada seseorang teman yang menusuk dari belakang (I think I’ve mentioned this in the previous post: “Teman atau Musuh?”), teman yang berbulu domba (you know what I mean). Ya, teman yang di depan kita bersikap baik, namun dibelakang membicarakan keburukan kita dengan teman yang lain; teman yang hanya memanfaatkan kelebihan ataupun kekurangan kita demi mendapatkan yang mereka inginkan, teman yang mendekati kekasih kita atau bahkan mencuri perhatiannya (I think this happened to me -_- ), teman yang iri dengan kita dan sebagainya. How annoying they are. That’s why, kita harus pandai memilih teman yang baik, not a fake friend. Kita boleh berteman dengan siapa saja, namun teman yang tidak baik seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, sebaiknya jangan terlalu dipercaya. Cukup anggap dia sebagai seorang teman, tidak lebih (sahabat).

Ya, nampaknya sahabat merupakan seseorang yang sangat penting bagi kehidupan kita. Sahabat hampir sama dengan teman, namun sahabat lebih dekat dan mengerti kita (as my opinion). You always share everything that happened to you to your best friend. Sahabat yang baik merupakan the real friend. Sebutan untuk sahabat sejati biasanya: “BFF (Best Friend Forever)”. Namun jangan sembarang menjadikan seseorang sebagai sahabatmu, bisa jadi itu bumerang bagi dirimu sendiri (as my experience).

Lanjut ke permasalahan Cinta.

Love? What do you think about Love?
Aah, everybody need somebody to love (lebih mirip seperti kutipan lagu). Memiliki seseorang yang mencintai kita dan kita cintai tentu gives a different color in our life. Namun, jika seseorang yang kita cintai tidak membalas cinta kita? Cinta bertepuk sebelah tangan, sebutannya. Tenang saja, “Allah SWT menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan”. Jadi tidak perlu khawatir jika Anda belum memiliki pasangan, just wait until the right person comes to you😀 .

Ini untuk yang memiliki kekasih. Memiliki seorang kekasih tidak selalu indah seperti yang dibayangkan. Terkadang kekasih kita sering sekali menjengkelkan, misalnya tidak memberi kabar, lebih mementingkan teman-temannya (yang lebih menjengkelkan teman lawan jenisnya. What a blow!), tidak perhatian atau para remaja sering menyebutnya “cuek”, tidak romantis, membuat kita cemburu dan sebagainya. It’s normal. Ya, biasa bagi kekasih yang belum resmi menjadi pasangan hidup, karena belum terikat dan si pasangan masih ingin bersenang-senang dengan dunianya. Jika sudah menikah, itu beda lagi ceritanya, katanya (karena belum menikah, so I don’t know how😀 ).

Kekasih idaman bagi setiap orang berbeda-beda (so, it’s up to your description). Jangan terlalu mengharapkan kekasih idaman seperti yang kita dambakan, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini (kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata). Terima saja kekasihmu, selagi dia membuatmu nyaman dan selalu mendukungmu dalam hal kebaikan. Oh iya, beberapa orang sering bilang: “Cinta itu tidak merubah siapapun”. Untuk yang satu itu saya sangat tidak setuju, karena beberapa orang juga berubah setelah menemukan cintanya. Saya bilang beberapa orang karena nampaknya tidak semua orang berubah karena cinta. Jika perubahan itu dalam hal kebaikan, itu sangat baik. Namun jika perubahan itu justru ke hal yang tidak baik, pikirkan lagi seribu kali apa dia pantas untukmu. Ya, memang kalian belum tentu melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, tapi apa salahnya jika kalian menjauhkan diri dari orang yang menjerumuskan ke dalam hal yang tidak baik (but, it’s up to you. Kalian yang menjalani). Tapi beberapa orang tidak melakukan hal ini dengan banyak pertimbangan (I don’t know why -_- ).

Intinya, setiap permasalahan yang hadir dalam kehidupan kalian, yaa terima saja dengan senang hati (kata orang: “Let it flow”). Anggap saja itu ujian untuk kita naik ke derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT.  Kalau bisa diselesaikan, yaa selesaikan sesegera mungkin agar tidak berkelanjutan menjadi masalah yang serius. Permasalahan dapat diselesaikan dengan meminta saran kepada orang yang dipercaya mengenai solusi dari permasalahan tersebut atau kalian bisa renungkan sendiri bagaimana solusinya.
Beberapa hal yang saya ceritakan di atas, hanya sedikit gambaran dari beberapa masalah yang sering dihadapi oleh seseorang dalam keluarga, teman ataupun cinta. Tentunya banyak masalah lain yang kita hadapi, misalnya masalah pekerjaan, kuliah, sekolah, lingkungan sekitar dan sebagainya. Jika saya jelaskan semua, mungkin bisa dijadikan sebuah buku (saking banyaknya😀 ).

Thanks for reading😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s