Perkembangan PJJ di Indonesia

PAPER TUGAS AKHIR

PENDIDIKAN JARAK JAUH

Perkembangan PJJ di Indonesia

Disusun Oleh:

Nama: Rizqia Wulan Sari

Dosen:

Timbul Pardede

Definisi Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan Jarak Jauh adalah kegiatan pembelajaran/pelatihan yang disampaikan kepada individu peserta didik yang terpisah secara ruang dan waktu dengan dosen/tutor dengan memanfaatkan TIK. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari PJJ. Keterpisahan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta didik bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi pendidikan. Keterpisahan dapat pula karena jarak non-fisik yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan namun tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Selain itu dalam PJJ juga menggunakan bermacam metode pembelajaran yang dikomunikasikan melalui media.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa sistem PJJ didasarkan pada keterpisahan antara peserta didik dan pengajarnya dalam ruang dan waktu, pemanfaatan (paket) bahan belajar yang dirancang dan diproduksi secara sistematis, ada fasilitasi untuk interaksi tenaga dosen dan peserta didik yang tidak terus menerus antara peserta didik dengan peserta didik, tutor, dan organisasi pendidikan melalui beragam media, serta adanya penyeliaan dan pemantauan yang intensif dari suatu organisasi pendidikan. Implisit dalam pengertian tersebut adalah kemandirian peserta didik dalam mengelola proses belajarnya melalui pemanfaatan beragam pelayanan, baik yang disediakan oleh organisasi pendidikan maupun yang tersedia di lingkungan sekitar, serta adanya proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan secara sistematis oleh suatu organisasi pendidikan.

Menurut kesepakatan komponen sistem pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:

Untuk pelaksanaan pendidikan terbuka dan jarak jauh ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Access: provision of quality education everywhere needed
  2. Equity: provision of quality of education to everyone (education for all)
  3. Quality: standardized of quality education everywhere, everytime, for everybody

Sedangkan untuk indikator yang perlu diperhatikan yang sangat khas untuk sistem PTJJ adalah:

  1. Quality of ODL = quality of face to face learning (knowledge, skills, attitude).
  2. Economics of scale versus price for quality.
  3. Networking vs. self-sufficient
  4. Sustainability issue (massive versus focused)

Dengan memperhatikan uraian diatas maka standar yang akan dikembangkan sebaiknya memperhatikan hal-hal tersebut untuk dapat dijadikan rujukan bagi institusi yang ingin menyelenggarakan PTJJ.

Lebih jauh lagi Standar SEAMOLEC ini dikembangkan dalam rangka pengembangan SEA-EDUnet yang merupakan kerangka bagi network, konten pembelajaran dan mekanisme pelaksanaan dari program-program pembelajaran jarak jauh berbasis ICT dan berwawasan nasional dan regional (Asia Tenggara).

Perkembangan Pendidikan Jarak Jauh

Sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), yang dipersepsikan sebagai inovasi abad 21, merupakan sistem pendidikan yang memiliki daya jangkau luas lintas ruang, waktu, dan sosioekonomi.Sistem PJJ membuka akses terhadap pendidikan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Dengan karakteristik tersebut, sistem PJJ seringkali dianggap sebagai solusi terhadap berbagai masalah pendidikan.

Sistem PJJ sudah menjadi bagian yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia, dan menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memperoleh akses terhadap pendidikan, termasuk pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Situasi ini mendorong berbagai institusi pendidikan,terutama pendidikan tinggi, untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan jarak jauh.

Dalam perkembangannya, sistem pendidikan jarak jauh mengambil manfaat besar dari perkembangan media dan teknologi pembelajaran yang dapat melayani kebutuhan akan pendidikan secara masal dan luas.

Perkembangan teknologi yang pesat memunculkan model pendidikan jarak jauh yang fleksibel dan cerdas, mampu membuka akses pendidikan bagi siapa saja yang melintasi batas ruang dan waktu, serta mengatasi berbagai kendala sosioekonomis.

PJJ diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan, serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Oleh karenanya PJJ memiliki karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar tuntas, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau menggunakan teknologi lainnya. Melalui sistem PJJ, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan, dan tidak kehilangan kesempatan berkarir.

Selain akses, sistem PJJ juga meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan bagi setiap orang. Sifat massal sistem PJJ dalam mendistribusikan pendidikan berkualitas yang berstandar dengan menggunakan TIK, standarisasi pencapaian pembelajaran materi ajar, proses pembelajaran, bantuan belajar, dan evaluasi pembelajaran, menjadikan pendidikan berkualitas dapat diperoleh berbagai kalangan.

Perkembangan PJJ di Indonesia

Untuk mendukung pencapaian kualitas yang standar, sistem PJJ sangat tergantung pada pemanfaatan fasilitas belajar bersama berdasarkan kemitraan antar institusi. Dengan demikian, tenaga pengajar yang berkualitas dapat dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk konsorsium untuk menjadi pengembang bahan ajar dan bahan ujian. Bahan ajar dan bahan ujian kemudian dikemas untuk didistribusikan ke berbagai pelosok tanah air. Hal ini menjamin terjadinya pemerataan akses terhadap pendidikan berkualitas lintas ruang, waktu, dan kondisi sosioekonomi.

Untuk menjamin kualitas, secara intrinsik, penyelenggaraan sistem PTJ diharapkan memenuhi persyaratan:

  1. Didasarkan pada kegiatan perencanaan yang sistemik berkenaan dengan kurrikulum, bahan ajar, proses pembelajaran, alat dan sistem evaluasi;
  2. berbasiskan media dan TIK;
  3. memanfaatkan sistem penyampaian yang inovatif dan kreatif;
  4. menyelenggarakan proses pembelajaran interaktif berbasiskan TIK tanpa mengesampingkan kesempatan tatap muka;
  5. mengembangkan dan membina tingkat kemandirian siswa; dan
  6. menyediakan layanan pendukung yang berkualitas (administrasi akademik, bantuan belajar siswa, unit sumber belajar untuk layanan administrasi dan siswa, akses, konektivitas, dan infrastruktur).

Berdasarkan hal-hal tersebut, peran sistem PJJ menjadi sangat penting untuk secara massal menawarkan budaya belajar yang berbeda, pengalaman belajar yang bermakna, serta integritas akademik kepada masyarakat luas di Indonesia, yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan daya saing bangsa.

Kesimpulan dari uraian yang saya paparkan di atas adalah antara media pembelajaran TIK atau peningkatan skill pengajar dalam pemanfaatannya harus berjalan beriringan. Kenapa demikian saya berpendapat bahwa apabila kita terlalu menitik beratkan ke salah satu aspek tersebut maka menurut saya maka tidak akan adanya kesempurnaan yang maksimal yang mengakibatkan tidak berjalannya sistem. Oleh karena itu jalankan sistem yang ada dengan memaksimalkan media pembelajaran yang ada dan skill pengajar yang ada. Apabila hal yang sudah ada telah sempurna dilaksanakan kekurangan-kekurangan yang lain di benahi seiring berjalannya kegiiatan sistem yang ada dan sudah dilakukan. Kekurangan yang ada akan terlihat dan terasa jelas saat sistem sudah dijalankan.

Faktor pendukung perkembangan PJJ di Indonesia:

  1. Tumbuhnya kesadaran akan minat PJJ di kalangan pemerintah dan sektor swasta yang dibuktikan dengan bertambah luas dan banyaknya jumlah peserta yang mengikuti kegiatan loka karya dann pertemuan.
  2. Distribusi masukan yang telah diberikan para konsultan di berbagai sektor semakin meyakinkan pendayagunaan mereka telah dilakukan secara baik dan maksimal.
  3. Peran serta secara positif di dunia pendidikan dan pelatihan melalui kegiatan simposium nasional dan internasional.
  4. Dukungan dari Pemerintah Indonesia , UNDP, dan UNESCO telah menjadi pendorong bagi pengelola kegiatan selama masa opersionalnya. Hal itu menjadi faktor pendukung bagi kelanjutan pengembangan kerjasama lintas sektoral di masa depan.

Secara umum, sistem PJJ dengan keunikannya serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mendukungnya, telah berkembang menjadi sistem pendidikan yang banyak diperhitungkan dalam upaya menjawab beragam tantangan, terutama pada jenjang pendidikan tinggi.

Berdasarkan data-data statistik dunia (www.internetworldstats.com), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2010 mencapai sekitar 30 juta pengguna. Diperkirakan pada tahun 2011 akan mencapai 39,6 juta pengguna. Pertumbuhan pengguna internet yang sangat cepat ini sangat mendukung perkembangan PJJ di Indonesia. Di samping itu, situasi ekonomi nasional dan global menyebabkan harga komputer semakin dan biaya akses internet juga semakin terjangkau oleh berbagai pihak.

Kendala Perkembangan PJJ di Indonesia:

  1. Daya saing bangsa masih belum terlalu tinggi, ditunjukkan dengan indikator yang berlaku internasional. Mutu pendidikan di Indonesia masih belum cukup tinggi ditunjukkan dengan indikator eksternal yang berlaku internasional dan indikator internal yang berlaku nacional, walaupun sudah beberapa perguruan tinggi negeri yang mampu menembus peringkat atas Asia dan dunia dalam Webometrics.
  2. Globalisasi dan knowledge-based economy yang menantang manusia Indonesia untuk berkemampuan menciptakan dan memanfaatkan pengetahuan; memiliki profesionalisme tinggi; sertifikasi profesi; memiliki entrepreneurial spirit, dan menguasai soft skills. Modal sumberdaya manusia yang dimiliki Indonesia sesungguhnya adalah sangat potencial. secara umum, kualitas sumberdaya manusia Indonesia masih belum mampu bersaing dalam skala global, bahkan Indonesia masih berada pada peringkat yang relatif rendah dalam Human Development Index dunia, yaitu ranking 108 (Human Development Index – 2010 Rankings, Sumber: hdr.undp.org/en/statistics/).
  3. Civil society: tuntutan akan kualitas dan peran perguruan tinggi dalam membentuk masyarakat yang berkarakter dan masyarakat madani. Sebagai lembaga sosial yang secara tradisional bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, perguruan tinggi adalah lembaga yang paling merasakan tuntutan sosial untuk menghadapi beragam perubahan global tersebut. Dunia usaha, pemerintah dan masyarakat yang memerlukan ilmu pengetahuan baru yang berbasis teknologi informasi, bioteknologi serta ilmu-ilmu multidisiplin lainnya akan menuntut perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan mereka akan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi.

Secara mikro, tantangan yang dihadapi oleh pendidikan tinggi di Indonesia meliputi:

  1. Digitalisasi proses pembelajaran yang semakin berkembang.
  2. Kapasitas daya tampung perguruan tinggi.
  3. Pembinaan kualitas perguruan tinggi.
  4. Waktu studi di perguruan tinggi yang belum efektif.
  5. Masa tunggu lulusan perguruan tinggi untuk mendapat pekerjaan masih tinggi.
  6. Minat mahasiswa terhadap bidang sains dan teknologi yang relatif masih rendah.
  7. Kualitas tenaga pengajar perguruan tinggi yang belum memadai dan belum tersebar dengan baik.
  8. Krisis sumberdaya keuangan perguruan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Annisya Rahmayanti. Maret 2013. Perkembangan PJJ. http://annisa-rahmayanti95.blogspot.com/2013/03/perkembangan-pjj.html

Azary Akbar. 13 November 2012. Perkembangan PJJ di Indonesia. http://azharyakbar.blogspot.com/2012/11/perkembangan-pjj-di-indonesia.html

2 thoughts on “Perkembangan PJJ di Indonesia

  1. Pingback: Paper PJJ | ratnamamina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s