Dua Srikandi

Premis: Kasih sayang anak kepada ibunya

Dua Srikandi

Sinopsis:

Kisah ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang tinggal di Yogyakarta, yang terdiri dari seorang ayah bernama Thomas, ibu bernama Eva, dan seorang anak perempuan bernama Jane. Keluarga tersebut merupakan keluarga kecil yang bahagia. Thomas adalah seorang ayah yang sangat berwibawa dan bijaksana. Beliau sangat peduli kepada keluarganya. Beliau bekerja sebagai pegawai di suatu bank. Sedangkan Eva adalah seorang ibu sekaligus wanita karir yang sangat baik hati dan sangat menyayangi anak semata-wayangnya, Jane. Eva merupakan pemilik sebuah toko kue ternama di Yogyakarta. Jane adalah seorang siswa kelas 3 SMA yang sangat pandai dan sangat menyayangi kedua orang tuanya.

Suatu ketika di bank tempat Thomas bekerja, terjadi perampokkan bank yang membuat dirinya meninggal dunia karena tertembak. Kejadian tersebut merupakan kejadian yang sangat menyedihkan bagi Eva dan Jane, karena mereka sangat menyayangi Thomas. Namun, Eva tetap tegar dan selalu menyemangati Jane agar tidak larut dalam kesedihan. Eva harus bekerja lebih keras untuk membiayai dirinya dan anaknya.

Setiap hari Eva harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dan pekerjaan di tokonya sampai larut malam sehingga membuat dirinya semakin kurus. Karena merasa iba melihat ibunya harus bekerja keras, Jane selalu mengerjakan pekerjaan rumah dan juga membantu ibunya di toko sepulang sekolah. Jane sangat perhatian terhadap ibunya. Setiap pagi, Jane bangun lebih dulu daripada Eva agar dapat mengerjakan pekerjaan rumah tanpa sepengetahuan Eva, karena setiap kali Jane akan melakukan perkerjaan rumah, Eva selalu melarangnya. Namun Jane tidak tega melihat kondisi Eva yang semakin kurus.

Saat liburan sekolah, Jane tidak mengizinkan ibunya untuk bekerja baik di rumah maupun di toko. Jane mengerjakan semua pekerjaan ibunya agar ibunya dapat beristirahat, karena Jane tidak ingin ibunya jatuh sakit. Eva sangat bangga memiliki anak seperti Jane, karena selain berbakti Jane juga anak yang sangat pandai. Ia selalu menjadi juara pertama di kelasnya dan mendapatkan beasiswa penuh. Oleh karena itu, Jane tidak membebani Eva dalam biaya sekolahnya.

Satu tahun kemudian, toko kue Eva dilanda krisis. Jarang sekali pelanggan datang ke tokonya karena salah seorang pesaing dari toko kue tersebut memfitnah bahwa kue buatan Eva menggunakan bahan kimia yang berbahaya. Eva pun bingung apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan tokonya dan keluarganya.

Jane tidak tinggal diam melihat toko kue ibunya krisis. Ia pun terpaksa untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, karena tidak ada biaya. Jane pun mencari pekerjaan di hampir seluruh kota Yogyakarta dan tidak sedikit hambatan yang ia dapatkan, seperti ditolak mentah-mentah oleh beberapa perusahaan.

Setelah sekian banyak perusahaan yang didatanginya, akhirnya Jane mendapatkan pekerjaan disebuah butik dengan upah yang terbilang kecil. Meski upah yang didapatkan Jane kurang, Eva tetap bangga melihat usaha anaknya demi menyambung hidupnya.

Beberapa bulan kemudian, toko kue Eva kembali stabil karena pesaingnya telah mengakui bahwa berita yang disebarkannya itu hanya fitnah. Jane pun dapat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di Yogyakarta. Namun Jane tetap bekerja paruh waktu di butik. Mereka pun akhirnya bisa bertahan hidup walau sudah kehilangan sesosok ayah.

Titik kritis: –     Jane bangun lebih dulu daripada Eva agar dapat mengerjakan pekerjaan rumah tanpa sepengetahuan Eva, karena setiap kali Jane akan melakukan perkerjaan rumah, Eva selalu melarangnya.

–       Toko kue Eva dilanda krisis.

 

Dua Srikandi

            Di pagi hari sekitar pukul 3 pagi, alarm handphone Jane berbunyi dan ia terbangun. Ia melihat ke kamar ibunya yang masih terkunci dan ternyata ibunya masih tidur. Jane pun berinisiatif untuk mengerjakan pekerjaan rumah agar dapat meringankan beban ibunya. Jane sengaja bangun lebih awal dari ibunya karena ia tidak mau ibunya mengetahui dan melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah.

Di dalam hati Jane berkata, “Wah, ini kesempatan bagus untuk mengerjakan semua pekerjaan ibu. (sambil tertawa kecil).

            Pekerjaan yang dilakukan Jane pertama kali adalah mencuci pakaiannya dan ibunya yang sudah menumpuk. Sambil mencuci pakaian, Jane mendengarkan lagu kesukaannya dengan volume yang kecil sekali agar tidak membangunkan ibunya.

Setelah semua pakaian selesai dicuci dan dijemur, Jane menyapu lantai sambil merapikan barang-barang yang terlihat usang. Setelah selesai menyapu lantai, Jane mengepel seluruh lantai hingga bersih.  Setelah selesai mengepel lantai, Jane menyiapkan sarapan untuknya dan ibunya. Ia memasak makanan kesukaan ibunya yaitu pancake.

“Aku ingin membuatkan pancake untuk ibu, karena pancake adalah makanan favorit ibu.” (sambil tersenyum manis)

            Saat memasak, tiba-tiba Jane menjatuhkan piring dan ibunya pun terbangun karena mendengar suara piring yang pecah. Jane merasa panik dan segera merapikan kepingan pecahan piring tersebut dan langsung bersembunyi.

“Ooh, tidak! Gawat ini. Ibu pasti terbangun. Aku harus segera merapikannya dan segera bersembunyi. Jika ketahuan, aku bisa dimarahi ibu.” (dengan wajah panik, Jane merapikan pecahan piring tersebut)

Eva pun terbangun dan langsung menghampiri ke arah dapur, karena hanya di dapur lah beliau menyimpan piring.

“Suara apa itu?, Jane, Jane”  (sambil berteriak memanggil Jane)

Ketika berjalan ke arah dapur, Eva sempat terkejut melihat seluruh ruangan sudah bersih dan sangat rapi. Eva juga menengok ke arah luar, ternyata sudah ada pakaian yang dijemur.

“Loh, kok sudah rapi begini? Siapa yang mengerjakan ini semua? Pasti Jane yang mengerjakan ini semua.” (Eva bertanya-tanya dalam hati)

Eva lalu bergegas ke dapur dan berteriak memanggil Jane. Jane tidak menjawab ibunya, karena ia sedang bersembunyi. Ketika melihat dapur yang rapi dan sudah ada sarapan di meja makan, Eva hanya bisa terdiam. Tiba-tiba Jane mengagetkannya. Eva pun terharu karena melihat perlakuan anaknya terhadapnya sambil menitikan air mata. Jane pun memeluk erat ibunya.

Eva berkata kepada Jane, “Nak, kan sudah ibu bilang jangan melakukan pekerjaan ibu, kamu sudah menjadi juara kelas saja ibu sudah bangga. Ibu tidak mau kamu melupakan sekolah mu hanya karena ibu.” (sambil menitikan air mata)

Jane pun menjawab, “Aku hanya tidak ingin ibu sakit karena harus bekerja keras setelah kepergian ayah. Ibu adalah satu-satunya yang aku punya saat ini.” (dengan wajah berusaha untuk tetap tegar)

            Sesaat setelah Eva menitikan air mata, Jane dengan wajah ceria mengajak ibunya untuk sarapan. Sebelum sarapan, Eva mandi terlebih dahulu. Begitu pula dengan Jane.

“Sudah bu, mari kita sarapan bersama.”, Jane dengan wajah ceria.

“Ibu ingin mandi dulu, nak. Kamu juga mandi ya, setelah sarapan berangkat ke sekolah nanti terlambat lagi.”, Eva sambil berjalan pelan menuju kamarnya.

“Baik bu.”, jawab Jane.

Setelah selesai mandi, mereka pun sarapan bersama dan ibunya tak henti memasang wajah gembira dan bangga di depan anak semata-wayangnya itu. Eva sangat bangga memiliki anak seperti Jane. Eva pun berterima kasih kepada Jane.

“Terima kasih, nak. Ibu sangat bangga memiliki anak yang sangat baik dan pandai sepertimu.”, Eva dengan wajah gembira.

“Semua ini aku lakukan karena aku sangat menyayangi ibu, jadi ibu tidak usah berterimakasih kepadaku.”, Jane dengan senyum lebar dipipinya.

            Mereka melanjutkan sarapan dan setelah selesai sarapan, Jane bergegas ke sekolah, sedangkan ibunya bergegas berangkat ke toko kue. Sebelum ke sekolah, Jane berpamitan.

“Bu, aku berangkat ke sekolah ya.”, Jane (sambil mencium tangan dan memeluk ibunya)

“Hati-hati ya, nak. Do’aku selalu menyertaimu.”, Eva (sambil tersenyum)

“Terima kasih, bu. Aku sayang ibu.”, Jane (sambil berjalan)

“Aku juga menyayangimu, nak. Sangat menyayangimu.”, Eva dengan wajah penuh haru.

Satu tahun kemudian, mereka mengalami masa-masa yang sangat kritis. Toko yang selama kepergian Thomas sebagai sumber utama penghasil keuangan mereka, menjadi sepi pelanggan. Para pelanggan kecewa karena fitnah dari pesaing yang membeberkan berita bahwa kue buatan Eva mengandung bahan kimia yang berbahaya.

Eva hanya bisa pasrah melihat tokonya krisis. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan tokonya dan keluarganya, karena toko itu adalah harapan satu-satunya untuk Eva dan Jane. Terlebih lagi Jane sudah lulus SMA dan harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Jane melihat ibunya termenung di taman belakang rumahnya. Lalu Jane menghampiri ibunya. “Sudah, bu. Tak usah dipikirkan. Aku bisa mencari pekerjaan dan membantu keuangan kita.”, Jane berusaha menghibur ibunya.

Ibunya pun menjawab, “Tidak, nak. Kamu harus melanjutkan pendidikanmu, nak. Katanya kamu ingin menggapai cita-citamu menjadi seorang chef handal. Ibu bisa menjual toko kita untuk biaya kuliahmu.” (dengan mata berlinang)

“Toko kita tidak boleh dijual, bu. Itu satu-satunya yang kita punya. Toko itu sangat berharga, bu. Barang kali toko kita bisa bangkit lagi.”, Jane meyakinkan ibunya.

“Baiklah, nak. Ibu ikuti nasihatmu. Tapi jangan lupa nanti jika keuangan kita sudah stabil, kamu harus kuliah.”, Eva dengan menepuk pundak Jane.

“Ya bu, pasti. Aku kan ingin menjadi chef handal.”, Jane sambil tertawa gembira.

            Keesokkan harinya, Jane mulai mencari pekerjaan ke beberapa perusahaan. Jane kerap kali mendapat caci maki dari satpam penjaga perusahaan ternama, dengan alasan Jane hanyalah seorang lulusan SMA. Namun Jane tidak pantang menyerah. Ia mencoba melamar pekerjaan ke sebuah butik yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Jane diwawancari oleh si pemilik butik tersebut. Si pemilik bertanya tentang alasan Jane ingin sekali bekerja, padahal Jane baru saja lulus sekolah.

“Apa alasanmu ingin bekerja, kamu kan baru saja lulus sekolah. Apa kamu tidak ingin kuliah?”, Tanya pemilik butik.

“Saya ingin membantu ibu saya, bu. Toko ibu saya mengalami krisis bu, ayah saya sudah meninggal dunia. Sedangkan kami membutuhkan banyak biaya untuk menyambung hidup. Saya tidak tega bila harus membebani ibu saya.”, jawab Jane dengan mata berkaca-kaca.

            Karena merasa iba mendengar cerita Jane, pemilik butik tersebut pun menerima Jane untuk bekerja di butiknya.

“Berhubung kami sedang membutuhkan pegawai, jadi mulai besok kamu dapat bekerja di butik ini.”, Pemilik butik dengan senyum melebar diwajahnya.

“Terima kasih banyak, bu. Kapan saya bisa mulai bekerja?”, Jane menjawab dengan senangnya.

“Mulai besok kamu sudah bisa bekerja disini. Datanglah tepat waktu dan jadilah pegawai yang teladan.”, Pemilik butik dengan sedikit tegas.

“Baik, bu. Sekali lagi terima kasih banyak, bu.”, Jane dengan wajah gembira sambil menjabat tangan Pemilik butik.

            Jane tidak sabar untuk memberitahukan berita baik ini kepada ibunya. Sepanjang perjalanan pulang, Jane tidak habis-habisnya memasang senyum manis yang melebar dipipinya. Sesampainya di rumah, Jane langsung berteriak memanggil ibunya dengan hati gembira.

“Ibu, bu. Ibuu. Aku punya berita bagus untuk ibu.”, Jane berteriak sambil tersenyum lebar.

“Ada apa, nak? Tak usah teriak-teriak seperti itu, ini rumah nak bukan hutan.”, jawab Eva sedikit meledek.

Jane langsung berlari kecil menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi. “Ibu, aku sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah butik.”, Jane dengan wajah penuh gembira.

Eva hanya bisa tersenyum penuh haru dan langsung memeluk Jane sambil berkata, “Ibu tidak tau harus berkata apa. Ibu sangat bangga denganmu, nak.”

            Sebulan kemudian, Jane mendapatkan upah pertamanya. Walaupun upahnya terbilang kecil, namun Eva tetap bangga karena Jane telah berusaha keras untuk menyambung hidup mereka.

Tak lama kemudian, toko Eva kembali ramai pelanggan. Pesaing telah mengakui bahwa apa yang diberitakannya hanyalah akal-akalan pesaing tersebut agar toko kue Eva bangkrut. Benar saja perkataan Jane bahwa tokonya akan bangkit kembali. Karena keuangan mereka telah stabil, akhirnya Jane dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ia impi-impikan selama di bangku sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s